widia.nurfauziah10's blog

mencari dan memberi yang terbaik

Perjalanan Hidup Kerang

Author: widia.nurfauziah10
09 16th, 2010

Pada suatu hari, sebutir pasir yang tajam memasuki tubuh anak kerang yang merah dan lembek. Anak kerang yang berada di dasar laut itu pun mengadu. “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir. kuatkan hatimu,” tutur ibu dari anak kerang itu.

“Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat,” lanjutnya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada  hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Semakin lama semakin halus.

Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaanya berubah menjadi bahagia. Hasil deritanya selama bertahun-tahun membuatnya lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Kisah di atas mengingatkan saya pada seseorang yang berjuang keras demi menempuh cita-citanya.

Seorang laki-laki yang dilahirkan dari keluarga sederhana, yang mempunyai mimpi-mimpi besar. Ia terlahir dari keluarga yang mengerti akan pentingnya mencari ilmu dan betapa berharganya sebuah mimpi. ‘Dokter’ , salah sstu profesi yang saat ini cukup menjanjikan. Di Indonesia, profesi ini masih di anggap wah bagi sebagian masyarakat. Lelaki itu bermimpi dan berusaha keras untuk menjadi seorang dokter.

Dari kecil apabila diberi pertanyaan mengenai cita-cita, ia dengan pasti menjawab bahwa ia akan menjadi dokter. Mengetahui hal tersebut, orangtua lelaki itu hanya tersenyum dengan penuh harapan agar cita-cita anaknya tersebut terkabul. Mereka adalah sepasang pahlawan tanpa tanda jasa yang mengabdikan masa baktinya pada Sekolah Dasar. Pada masa itu, seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan guru apalagi guru SD  sangatlah minim, rasanya sulit untuk menyekolahkan anaknya sampai mencapai gelar dokter. Tapi mereka tidak pernah mengeluh di depan anaknya apalagi sampai mematahkan semangat anaknya. Memberi semangat, mendorong untuk terus maju,  dan memberi saran agar menjadi yang tidak biasa adalah wejangan dan hal yang selalu mereka lakukan kepada anaknya.

Singkat cerita, anak lelaki itu tumbuh menjadi siswa dengan segudang bakat dan prestasi. Ia selalu menjuarai berbagai perlombaan baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Selain itu ia juga pandai berorganisasi sehingga bukan hal yang tidak biasa apabila ia cakap berbicara di depan orang banyak. Dengan kemampuan yang ia miliki, ia mendapatkan beasiswa dari berbagai pihak yang semakin memudahkan ia mencapai cita-citanya. Pada saat ia menjadi mahasiswa, walaupun ia harus sedikit berbeda dengan teman-teman kebanyakan yang pergi kuliah dengan mobil mentereng dan segala fasilitas yang ada, namun ia tidak pernah berkecil hati. Ia pintar dan rendah hati, jadi walaupun ia berasal dari keluarga dari segi perekonomiannnya sederhana dibanding teman-temannya, ia banyak disegani. Bahkan ia pun banyak mendapat kepercayaan untuk kerja sambil kuliah dari pihak kampus dan juga ia memulai bisnis kecil-kecilan bersama teman-temanya. Penghasilan yang ia dapatkan ia gunakan untuk uang saku. Berbagai usaha selalu ia lakukan agar mendapat uang tambahan yang bisa ia pergunakan untuk membantu meringankan kerja orangtuanya.

Hidup hemat, tidak berkecil hati, rajin dan aktif di berbagai bidang dan kegiatan, itulah kegiatan yang selalu ia lakukan selama ia bersekolah. Beberapa tahun kemudian, gelar dokter itu bukan hanya sebuah mimpi, namun selalu tertera di depan namanya.



Membuat Gebrakan Baru itu Menyenangkan

Author: widia.nurfauziah10
09 16th, 2010

Inspirasi menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia tahun 1984 adalah ilham; bisikan, sedangkan menurut kamus Bahasa Indonesia kontemporer tahun 2001 inspirasi adalah intuisi; ilham; pengaruh (dari dalam) yang membangkitkan kreatif; penarikan napas (ke dalam). Yang kemudian saya simpulkan inspirasi adalah sesuatu hal yang dapat membuat kita terpengaruh dan mendapat semangat untuk melakukan, meniru ataupun merealisasikan hal tersebut.

Ketika saya mendapatkan tugas ini sebenarnya saya belum merasa pantas untuk disebut sebagai inspirator tetapi pengalaman ini saya alami ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dan semoga bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang membaca pengalaman saya ini.

Pada saat bulan ramadhan sekolah saya biasa membuat kegiatan untuk  meramaikan suasana bulan ramadhan, dari mulai pesantren kilat, buka puasa bersama, lomba nasyid, lomba membuat ta’zil, lomba adzan, lomba membaca Al-Qur-an, lomba membuat kartu lebaran raksasa dan lomba-lomba lainnya. Ketika saya duduk di bangku kelas X dan tentunya belum mendapatkan pengalaman apapun dari kegiatan itu semua namun saya mempunyai ketertarikan tersendiri pada lomba membuat kartu lebaran raksasa.

Semangat saya begitu membara ketika itu, sehingga dari mulai di umumkannya perlombaan itu, walaupun saya belum mendaftar sebagai peserta, saya langsung mencari inrformasi sebanyak-banyaknya mengenai perlombaan itu. Pengumuman mengenai perlombaan itu dibacakan ketika upacara bendera, dan pada saat jam istirahat pertama saya langsung bergegas menuju kelas ketua OSIS yang merupakan kakak kelas saya. Dia cukup terkejut ketika saya temui karena tidak biasanya saya menghampirinya apalagi sampai sengaja seperti itu. Saya langsung menceritakan maksud dan tujuan saya menemuinya, raut muka dia menunjukkan bahwa dia senang ada yang begitu semangat mengikuti lomba kartu lebaran raksasa itu dan dengan santai dan senang hati dia menceritakkan sejelas-jelasnya mengenai perlombaan itu. Saya belum puas hanya dengan penjelasan saja, dan dengan spontannya saya meminta dokumentasi tahun-tahun sebelumnya yang berkaitan dengan perlombaan ini. Ternyata semua dokumentasi ada di salah satu anggotanya, dan saya disarankan untuk menemui beliau. Saran itu tentu saja saya laksanakan, jam istirahat kedua saya pun langsung menemui kakak kelas saya yang menyimpan dokumentasi itu.  Ternyata kakak kelas saya sudah keluar dari kelasnya dan sedang menunaikan shalat dzhur, untuk itu saya pun langsung menuju mesjid dan saya menuggu beliau selesai karena kebetulan ketika itu saya sedang berhalangan. Ketika beliau keluar saya langsung bergegas menemuinya dan menceritakan apa yang saya butuhkan, dan beliau pun langsung dengan semangat menjawab semua dokumentasi itu ada di salah satu komputer di laboratorium komputer 1 di sekolah saya. Mengetahui informasi itu maka pada saat jam istirahat ketiga saya dengan rasa ingin tahu yang besar bergegas menuju laboratorium komputer 1 dan langsung menuju meja komputer yang dimaksud. Ketika saya membuka folder yang dimaksud, saya cukup kecewa karena hanya tinggal 5 file saja. Saya tidak putus asa, keesokan harinya saya rajin mencari informasi dari kakak kelas saya yang pernah mengikuti perlombaan tersebut.

Setelah saya simpulkan dari seluruh informasi yang saya dapatkan, ternyata mereka yang sudah-sudah hanya membuat kartu lebaran dalam bentuk 2 dimensi seperti layaknya kartu lebaran dalam ukuran biasa hanya ukurannya saja yang dibuat besar. Sejenak saya berpikir, kartu itu intinya diperuntukkan untuk mengucapkan selamat lebaran kepada pihak yang dituju. Saya ingin membuat sesuatu yang berbeda dari biasanya, dan akhirnya saya memutuskan untuk membuat karu lebaran raksasa itu dalam bentuk 3 dimensi yang saya realisasikan dalam bentuk maket.

Saya mencoba menggebrak  yang sudah ada ketika itu. Masing-masing peserta diberikan waktu 6 hari untuk menyelesaikan kartu lebarannya dan hanya boleh dilakukan di sekolah sampai pukul 17.30. Saya selalu membuatnya seusai sekolah, saya hanya mempunyai waktu 2 jam setiap harinya, maka dari itu saya berusaha semaksimal mungkin agar tidak banyak waktu yang terbuang. Pada saat puncak acara, semua peserta wajib menyelesaikan pekerjaannya di hadapan para juri, dan hasilnya akan dipamerkan di hadapan seluruh siswa. Ketika karya saya selesai dibuat dan dipamerkan, banyak pro kontra dari berbagai pihak karena bentuk kartu lebaran saya berbeda dari yang lain. Saya tidak berkecil hati apalagi putus asa, saya tetap optimis dengan karya yang saya buat. Setelah pameran dan penilaian selesai dilakukan, karena itu adalah hari terakhir sekolah dan menjelang idul fitri maka pengumuman kejuaraan pun ditunda sehabis libur idul fitri dan kira-kira dua minggu setelah pameran itu.

Selama liburan rasa penasaran selalu menyelimuti hati saya, apakah karya saya dapat diterima atau tidak. Tidak terasa dua minggu sudah berlalu dan  hasil penilaian pun diumumkan. Terkejut bercampur senang ketika nama saya disebutkan sebagai pemenang bahkan sebagai juara pertama. Saya tidak menyangka dapat mengalahkan teman-teman satu angkatan bahkan kakak kelas saya yang lebih berpengalaman. Ternyata karya saya bukan hanya diterima tetapi mendapat apresiasi yang luar biasa dari para penilai.

Semenjak saat itu banyak yang terinspirasi dari karya yang saya buat, bahkan pada tahun berikutnya dan pada lomba yang sama kebanyakan peserta mengikuti apa yang pernah saya lakukan sebelumnya, mereka membuat dalam bentuk 3 dimensi. Dan dari informasi yang saya dapatkan, hal itu masih ditiru oleh adik kelas saya hingga saat ini. Mendengar hal itu, ada kepuasaan tersendiri dalam hati saya. Sungguh, semua itu memang pengalaman yang luar biasa.



07 26th, 2010
07 26th, 2010